Jumat, 22 November 2013

MENJADI GURU IDOLA BAGI SISWA


Oleh :
Description: karikatur3.jpg
Ejen Jenal Mutaqin, M.Pd.
Guru SDN Karangmulya 02 Malangbong

Fakta  menunjukkan  bahwa  menjadi  guru yang baik  atau  guru ”idola”  tidak  mudah.  Banyak  kendala  yang  dihadapi  guru,  baik  yang bersumber  dari  diri  guru  (kepribadian  dan  watak),  maupun  dari lingkungannya.  Sebagai contoh di sebuah sekolah ada siswa yang selalu minta minyak gosok pada  ibunya setiap akan berangkat ke  sekolah,  setelah  dikonfirmasi  ternyata  anak  tersebut  perutnya  mulas-mulas  ketika  melihat  guru  kelasnya.  Setelah  di  selidiki  guru  tersebut mengecam  muridnya  sebagai  anak  jahat  dan  pengacau,  sehingga  tidak dipedulikan dalam pembelajaran,  dan akhirnya anak tersebut dipindahkan ke sekolah lain.
Kondisi ini sangat memprihatinkan, sebab siswa merasa tertekan dengan  kehadiran  guru.  Ketidaknyamanan  psikologis  ini  menimbulkan hambatan belajar bagi siswa. Di sisi lain dalam berbagai pemberitaan di berbagai media baik media elektronik maupun media catak,  menunjukkan  bahwa  banyak  guru  yang  menciderai siswanya  (melalui hukuman  fisik & perbuatan asusila),  sebagai bentuk upaya mendisiplinkan siswa. Fenomena ini bertentangan dengan hadirnya kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor  20  Tahun  2003  pasal  3  yang   menjelaskan fungsi pendidikan nasional Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Guru  Idola  dalam  sajian  ini  dimaknai  sama  dengan  konsep  guru efektif.   Alasnnya adalah guru  idola dapat dikenali melalui kinerja mengelola pembelajaran  yang  efektif.  Pembelajaran  efektif  adalah  pembelajaran  yang dapat  mengembangkan  seluruh  aspek  potensi  siswa. 
Untuk menjadi guru idola, guru harus memiliki kompetensi sebagaimana yang tertuang dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yaitu Kompetensi pedagogik, kepribadian, soaial, dan profesional. Penguasaan  kompetensi  pedagogik  erat  kaitannya  dengan kemampuan  guru  melakukan  pembalajaran,  sedangkan  kompetensi profesional  terkait  dengan  penguasaan  substansi  bidang  pelajaran. Kompetensi  ini  sebagai  bagian  penting  dari  tugas  utama  guru,  disamping keseimbangannya  dengan  kompetensi  kepribadian  dan  sosial.  Guru  dapat meramu  penguasaan    kompetensi  pedagogik  dan  profesioanal  tersebut dengan menekankan  pada  keberhasilan  belajar  peserta  didik  untuk  semua  aspek.
Beberapa  hal  yang  sebaiknya dapat  dilakukan  guru  untuk mengimlementasikan kompetensi tersebut, yaitu:
1.      Guru  sebaiknya menjalankan  tugas  dan  fungsinya  sesuai  dengan  tuntutan karakteristik  masyarakat  masa  depan.  Dalam  hal  ini  guru  selalu mengikuti  perkembangan  “trend”  yang  sedang  berkembangan  di masyarakat, tetapi tetap berprinsip dengan jati diri. Kondisi ini akan membantu  guru  akarab  dengan  siswa  tetapi  tetap  berwibawa sebagai  tauladan,  sehingga  mempunyai  pengaruh  positif  bagi peserta didik. Ciptakan kondisi sebagai “guru idaman”.
2.      Guru  sebaiknya dapat  mengajar dengan  keragaman kemampuan  siswa atau keragaman alur belajar (learning trajectory) siswa. Dalam  hal  ini  guru  dapat  mengembangkan seluruh modalitas belajar  dan seluruh spektrum kecerdasan siswa. Tentu  saja  dalam  satu  kelas  bervariasi  dominasi  kecerdasan  dan cara berfikir siswa dalam menyerap informasi. Guru dapat memberikan berbagai alternatif strategi ataupun scaffolding untuk membantu mengatasi siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep yang dipelajari,  hindari mengejek  siswa  yang  lambat  pemahamannya,  dan memuji (menjadikan bunga kelas) bagi siswa pandai. Kondisi yang demikian  dapat memancing konflik siswa.
3.      Guru  sebaiknya selalu  mengembangkan  diri  dan  berwawasan  profesional tinggi  sesuai  perkembangan  keilmuan. Melalui  kegiatan KKG, MGMP, atau lesson study, guru dapat memperoleh pengetahuan perkembangan bidang ilmunya.  Guru  juga  dapat  memanfaatan  akses  internet  dalam mengikuti  perkembangan  tersebut. Hal  yang  penting  adalah  guru membimbing  siswa  untuk  memperkaya  pengetahuan  dalam bidangnya  melalui  akses  berbagai  sumber.  Artinya  guru  jangan terpaku dengan ”buku paket”.
4.      Dalam  pembelajaran  sebaiknya guru memberikan  tugas  yang  menantang siswa  untuk  berekplorasi  tentang  pengetahuan  yang  dipelajari. Dalam  mengajar  guru  mengkaitkan  dengan  isu-isu  yang  sedang berkembang,  dan  membimbing  siswa  untuk  menganalisis  dan mencari  alternatif  pemecaahannya  dengan  pertimbangan  alasan yang  jelas.  Variasi  tugas  pembelajaran  sangat  penting  antara individu dan tugas kelompok. Selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk memaparkan ide gagasannya, serta siswa mendapat balikan secara kritis konseptual dan kontekstual dari guru. Kondisi ini dapat menumbuhkan multi interaksi anatr anggota kelas.
5.      Guru  Mengajarkan  ilmu  “Bukan  Hanya  untuk  sukses  Ujian Nasional”,  tetapi  pembelajaran  yang  bermakna.  Siswa  memiliki pengetahuan,  keterampilan  dan  sikap. Dalam  hal  ini  guru mengajarkan  bahawa  fungsi  belajar  untuk  kelangsungan  hidup. Oleh  karena  itu,  luaran  hasil  belajar  adalah  siswa  cerdas,  bukan hanya  siswa  mendapat  ”nilai  betul”  secara  mutlak.  Namun  guru juga  menekankan  usaha  pencapaian  nilai  tersebut  melalui  cara benar, dan mengidarikan diri dari sikap menghalalkan semua cara. Aspek  kejujuran,  usaha,  berpikir  pada  diri  siswa  lebih  dihargai, sebagai proses belajar.
6.      Guru selalu membaca bidang ilmu dan bidang pembelajaran untuk menambah pemahaman, dan ditindak  lanjuti penerapannya dalam pembelajaran sekaligus sambil melakukan penelitian  (PTK) melalui tugas pelaksanaan pembelajaran. Hal ini untuk pengembangan diri dengan melibatkan siswanya, agar dapat melakukan pembaharuan (mengajar berbasis ilmiah).
Menjadi seorang guru  idola  di  era  global  seperti saat ini,  memang  sesuatu  yang gampang  diucapkan  (dipidatokan),  namun  sulit  untuk  diwujudkan. Pencapaian karakteristik guru  tersebut perlu niat dan usaha guru melakukan pembaharuan  pembelajaran  dan  selalu membantu  siswanya. Beberapa  hal yang  dapat  dilakukan  guru  untuk membangun  karakteristik  tersebut  antara lain: membaca, mengisi  temu  kolegialitas dengan  kegiatan  akademik,  serta kegiatan ilmiah  dan  profesional,    memahami  aturan  kebijakan  pendidikan, menuliskan  pengalaman  kinerja, menggunakan  potensi  lingkungan  sebagai laboratorium, jujur dan menghilangkan sikap formalitas, serta ikut-ikutan.